Abas Alibasyah

Abas Alibasyah

1 Karya

[show full text +] [hide text -]
Abas adalah putra dari seorang pegawai pada jawatan pengairan, Hoesen Adimihardja asal Purwakarta. Abas gemar menggambar sejak ia bersekolah di sekolah Belanda, Holandsche Inlandsche School (HIS). Di kelas, nilai mata pelajaran menggambarnya cukup menonjol. Kegemerannya menggambar di HIS kelak menjadi bakat Abas yang sebenarnya. Di samping ia memang hidup dan dibesarkan dalam keluarga mapan. Terbukti, ketika ia melanjutkan studinya di sekolah Sihan Gakho di zaman pejajahan Jepang, jiwa seninya kian berkembang. Namun, ia hanya senang dan tekun menggambar waktu itu. Ia sama sekali belum berpikir untuk menekuni dunia seni lukis. Namun ketika bergabung dengan Keimin Bunka Sidhoso – sebuah lembaga kesenian bentukan pemerintah Jepang – di Bandung. Dalam lembaga ini, Abas yang berusia 15 tahun, ia bertemu dengan pelukis-pelukis yang kelak dikenal hebat seperti Barli Sasmitawinata Affandi, Hendar Gunawan, Sudjana Kerton, dan pelukis abstrak kawakan Affandi. Mereka ini yang banyak memberi pengaruh terhadap keputusan Abas mantap memasuki dunia seni lukis. Lulus dari Sihan Gakho, ia melanjutkan studinya di BOPKRI. Bakat seninya pun terus meningkat. Kemudian ketika menjadi mahasiswa di Akademi Seni Rupa (ASRI) Yogyakarta, 1950-1956, Ia pun semakin produktif dan mutu karya menjadi lebih berkarakter. Beberapa tahun kemudian, ia melanjutkan studi ke Belanda. Sebagai sosok pelukis abstrak, dimana ia mengangkat tema-tema lingkungan seperti sisa-sisa Pasar Senen, topeng dan benda-benda etnik. Karya-karyanya itu banyak yang bersifat eksperimen. Karenanya ia menerima banyak pernghargaan prestesius, diantaranya hadiah seni lukis terbaik dalam Biennale I Seni Lukis Nasional, Dewan Kesenia Jakarta (DKJ) tahun 1974, penghargaan Lempad Prize dari Yayasan Lempad Bali, Penghargaan dari ISI Yogyakarta untuk pengabdian dalam dalam pendidikan seni. Selanjutnya, tahun 1977, ia kembali diganjar sebuah penghargaan Cultural Award Scheme dari Pemerintah Australia. Selain itu Anugerah Seni berupa Satya Lencana Kebudayaan dari Pemerintah diberikan kepadanya. Tahun 1985 juga mendapat anugerahi seni dari pemerintah. Selain terkenal dengan lukisan-lukisan abstraknya, Abas juga disebut sebagai sosok pejuang, pemikir, pendidik, dan organisatoris yang ulung. Hal ini dibuktikan dengan berbagai kiprahnya dalam mengabdi dalam dunia pendidikan. Dalam dunia pendidikan, Abas pernah menjadi pamong di Taman Siswa Ibu Pawiyatan Yogyakarta, guru di SMA Stella Duce dan Padmanaba Yogyakarta. Ia juga tercatat sebagai Dosen IKIP Yogyakarta dan UGM Yogyakarta. Sedangkan jabatan-jabatan strategis yang ditempanya seperti Direktur ASRI (Yogyakarta), Direktur ASKI (Surakarta), Ketua Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (Yogyakarta).
Sumber :