Presiden Soekarno mendalang Wayang Kulit

-


Presiden Soekarno menyambut kedatangan Dr. Idenburg bersama rombongan di Istana Yogyakarta.

-


Presiden Soekarno meninjau Presiden Ajub Khan ketika berkunjung ke Indonesia tahun 1960

-


Jamuan makan kenegaraan kunjungan Presiden Chekoslovakia Antonin Novotny di Istana Negara tgl 13 januari 1963

-


Walikota Jakarta Raya Sudiro menghadiahkan wayang kulit kepada Presiden Soekarno


Presiden Soekarno menjamu makan Ny. Eleanor Roosevelt dari U.S.A sebagai anggota UNESCO ketika berkunjung ke Indonesia pada tanggal 26 Maret 1952.


Bung Karno sedang membaca di ruang kerja


Presiden Soekarno Ibu Fatmawati Soekarno bercakap-cakap dengan Sultan Hamid II pada tanggal 20 Juli 1948 di Istana Kepresidenan Yogyakarta

-


Presiden Ir. Soekarno menyambut kunjungan wali kota menado Ny. Wawarountu di Istana .

-


PM India Pandit Jawaharlal Nehru & putri disambut malam ramah tamah di istana negara - Jakarta tanggal 7 Juni 1950.

-


Dr. Moh. Hatta (PMRIS) menyerahkan mandatnya kepada Presiden RI Ir. Soekarno tanggal 15 Agustus 1950 di Istana Merdeka.

-


Presiden Soekarno menari bersama putrinya, Megawati Soekarno Putri (Ega) th. 50-an

-


Dr. Ir. Soekarno & lukisan

-


Mr. Assaat Pejabat Presiden RI menyerahkan mandat kepada Presiden Soekarno tgl 15 Agustus 1950 .

-


Presiden Soekarno dan rombongan mengunjungi pameran lukisan Basoeki Abdullah.

-


Presiden Soekarno menerima kunjungan Menlu Philipina Carlos Romulo tahun 1950.

-


Pameran Koleksi Seni Rupa Istana Kepresidenan Republik Indonesia 17-71

Istana Kepresidenan Republik Indonesia adalah rumah bagi karya-karya seni berkualitas tinggi. Di dalamnya (baik yang ada di Istana Jakarta, Bogor, Cipanas, Pelabuhan Ratu, Yogyakarta, dan Tampak Siring) terdapat ribuan benda seni yang menjadi saksi sekaligus bagian dari sejarah bangsa Indonesia maupun perkembangan politik dunia. Koleksi-koleksi ini tentu saja amat penting untuk diketahui publik. Tidak semua masyarakat Indonesia maupun dunia mengetahui aset berharga ini. Untuk itulah perlu sosialisasi berupa pameran. ----------------------------------------------------------------------------------------------- Pameran lukisan dan benda-benda koleksi Istana Presiden Republik Indonesia ini adalah usaha pertama sejak 71 tahun lalu. Artinya, sejak Presiden Sukarno mengoleksi sejumlah lukisan dan benda seni lain di masa penjajahan Belanda hingga kini, istana presiden menjadi ruang tersendiri yang perlu dikaji lebih lanjut. Pameran ini selain penting bagi bangsa Indonesia, juga dapat dipakai sebagai tanda keterbukaan Istana Kepresidenan bagi seluruh rakyat Indonesia. ---------------------------------------------------------------------------------------------- Narasi utama pameran ini adalah mempertautkan wacana seni dan kemerdekaan. Keduanya disatukan oleh isu nasionalisme yang terus-menerus berkembang dari waktu ke waktu, dalam ranah teori maupun praktik. Seni sebagai wadah dan bentuk ekspresi individu adalah salah satu wujud dari kebebasan. Sedangkan kemerdekaan (baca: kebebasan) amat dibutuhkan, selain dalam seni dan bagi seniman, tetapi juga harus dimiliki oleh semua insan seluruh dunia. Implementasi narasi tentang “Goresan Juang Kemerdekaan” ini berupa penggambaran kisah perjalanan sejarah Republik Indonesia sejak merdeka hingga kini. Sajian tersebut antara lain berupa: Lukisan sejumlah 23 karya antara lain karya Raden Saleh, Affandi, S. Soedjojono, Hendra Gunawan, Basoeki Abdullah, Dullah, Trubus Soedarsono, Sudjono Abdullah, Harijadi S., Kartono Judhokusumo, Henk Ngantung, dll Sekitar 100 foto-foto Buku-buku Lukisan Koleksi Presiden Sukarno (edisi Dullah hingga Lee Man Fong, 1956-1965) Booklet Istana Kepresidenan Republik Indonesia Buku Rumah Bangsa. --------------------------------------------------------------------------------------


Inilah Buku Sukarno Favorite Painters Yang Diluncurkan Terbatas

JAKARTA – Bertempat di Masterpice Auction House Jakarta, Jumat (21/09/2018), buku berjudul Sukarno’s Favorite Painters atau Pelukis-pelukis Favorit Sukarno diluncurkan. Buku tersebut menceritakan soal 33 pelukis yang berhubungan langsung dengan Sukarno. Buku dengan tebal 316 halaman ini, juga menampilkan karya-karya para perupa yang masuk dalam favorit dan selera Sukarno. Mikke Susanto, yang juga salah satu anggota Tim Kuratorial Museum Istana Presiden Republik Indonesia, penulis buku seni mengatakan, Presiden Pertama Republik Indonesia Soekarno dikenal sebagai sosok yang menyukai seni, khususnya seni rupa. Menurutnya, kesenian disukai Sukarno sebagai penyeimbang antara menjadi politikus dan kegemaran terhadap seni. “Buku pelukis-pelukis favorit presiden Sukarno bercerita tentang sejumlah kisah kedekatannya dengan pelukis-pelukis. Sukarno sebagai politikus tapi dekat dengan seniman. Ada 200an seniman yang dikenal dekat dengan Beliau,” tegas Mikke Susanto, di Masterpice Auction House Jakarta, Jumat (21/09/2018). Ia menjelaskan, kedekatan Pak Karno dengan seniman, dikisahkan dengan pendekatan historis dan estetis. Bahkan juga dibahas model patronasi Sukarno serta sejarah seni rupa Indonesia di era 1940-1960an. “Kenal 200an seniman adalah kedekatan tidak sembarang. Aktivitas jadi penyeimbang antara kebiasaan dengan senirupa. Karena bisa mendapatkan rasa rileks melalui seni,” ujarnya. Dosen Seni Rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta mengatakan, hubungan intens Sukarno dengan para perupa dan karya-karya yang dikoleksi merupakan kisah yang indah. Pada sudut itulah Sukarno tampak sisi manusiawinya. Hubungan mereka jelas berkualitas, baik bagi perupa maupun baginya sendiri. “Berbagai kisah mulai dari perkenalan, jual beli, pemberian, pesanan khusus, kerja kreatif, dan hubungan keluarga yang terjalin dalam kisah-kisah ini memperlihatkan bahwa Sukarno memiliki sifat kritis, terbuka, dan siap menerima masukan atas berbagai hal, termasuk dari sejumlah pelukis. Jelaslah kisah-kisah rekreatif, rileks, penuh senda gurau, sekaligus reflektif,” kata Mieke. Presiden pertama Republik Indonesia ini, kata Mieke, berdasarkan koleksinya sangat menyukai lukisan potret perempuan dan pemandangan alam. Basuki Abdullah, Dullah dan Le Mang Fox dinilai sebagai pelukis-pelukis yang digemari Sukarno. “Dilihat melalui koleksinya, Basoeki Abdullah paling banyak ada 200an serta Dollah dan pelukis Cina yang kemudian menjadi WNI Le Mang Fox, yang paling banyak dikoleksi,” kilahnya. Buku Sukarno’s Favorite Painters diharapkan menjadi apresiasi terhadap koleksi Sukarno sebagai pemimpin bangsa Indonesia. Ia juga mengaku buku tersebut dicetak terbatas yang hanya 500 eksemplar dengan harga berkisar Rp.2,5 juta, yang wajib dimiliki oleh para kolektor. “Buku ini tidak dijual bebas. Jika ingin memiliki bisa menghubungi Masterpice karena dicetak terbatas 500 eksemplar,” tambahnya. Sebelumnya, Masterpice Auction House merupakan salah satu perusahaan balai lelang di Indonesia yang sejak tahun 2003 telah aktif menyelenggarakan kegiatan lelang bidang seni khususnya lukisan, patung, perhiasan, dan jam. Sejak awal berdiri hingga saat ini Masterpice Auction House telah berkembang pesat dan menjelma menjadi salah satu perusahaan balai lelang terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara dengan rutin mengadakan kegiatan lelangnya di Jakarta, Singapura, Malaysia dan Hongkong. Upaya turut serta memajukan dunia Seni Rupa di tanah air tak hanya dilakukan melalui kegiatan pameran dan lelang tetapi juga turut berperan menjadi penerbit buku referensi seni yang keberadaannya saat ini masih sangat minim. Sejak tahun 2013, Masterpice telah menerbitkan dua buku yaitu Jejak – Jejak Dekoratif pelukis Irsam dan buku Basoeki Abdullah – A Painter of Kings. (ANP)


Cerita di Balik Pameran Senandung Ibu Pertiwi

Pameran lukisan koleksi Istana Kepresidenan ‘Senandung Ibu Pertiwi’ yang diselenggarakan dalam rangka memperingati HUT ke-72 Kemerdekaan RI, memiliki cerita menarik bila ditinjau dari sisi persiapannya. Dikutip dari rilis Pers dan Media Sekretariat Presiden, Minggu (6/8), empat orang kurator terlibat dalam pameran lukisan kali ini, antara lain Amir Sidharta, Mikke Susanto, Asikin Hasan dan Sally Texania. Sebagaimana disampaikan ketua kurator, Asikin Hasan, di Galeri Nasioanal, 19 Juli lalu, tema dan pesan dari pameran, pertama yaitu ‘Senandung Ibu Pertiwi’ bila diartikan mengandung makna tanah air. Sebuah kekuatan di dalamnya mengandung macam-macam potensi. Hal ini terlihat dari lukisan yang dipamerkan merupakan bentuk dari keberagaman bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku, ras, agama yang semakin utuh dan kuat. Pameran pun dipecah menjadi 4 bagian. Pertama, keragaman alam dari koleksi Istana di Bogor, Cipanas, Jakarta, Bali, Yogya yang mengambil tema pemandangan alam di indonesia. Pada masa itu perupa beredar diseluruh penjuru nusantara, di Sulawesi, Sumatra Barat, Jawa dan sedikit Bali. Lukisan Pantai Flores karya bung Karno misalnya, yang dilukis ulang oleh Basoeki Abdullah. Mahat di Sumatra Barat, Gunung Merapi, dan pemandangan alam karya Abdullah Soeriosubroto dan Wakidi yang melukis pemandangan alam. Bagian kedua, adalah kegiatan atau aktivitas sehari-hari dengan fokus pada nelayan dan juga petani. Lukisan yang dipamerkan adalah lukisan penjual ayam dan bakul buah, penjual sate dan kegiatan sehari-hari di masa lalu, dan kehidupan para nelayan dan petani. Bagian ketiga adalah tradisi tari dan kebaya, dimana sekitar 15 lukisan mengambil tema Tari Rejang. Bung Karno pada masa itu membangun nasionalisme melalui pakaian pria berpeci dan perempuan berkebaya di mana identitas dibangun dari pakaian. Dibanyak arsip memperlihatkan foto-foto perempuan umumnya berkebaya. Adapun bagian keempat adalah mitologi dan religi yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat kita, yang kemudian belakangan berkembang agama, memperkaya keragaman di Indonesia dengan masuknya Islam, Hindu, Budha, Konghucu yang saling memperkuat, menggambarkan kebersamaan, gotong royong terkait satu sama lain. Sementara itu, Galeri Nasional juga melakukan berbagai persiapan sebelum pameran berlangsung. Salah satu persiapan yang dilakukan adalah di bidang sarana dan prasarana yang dimulai dua minggu sebelum hari pertama pameran dibuka. Persiapan fisik yang dilakukan antara lain seperti sarana untuk menggantung koleksi, sarana untuk tempat pendaftaran pengunjung melalui www.bek-id.com, membuat tanda dan juga sarana lain. Galeri nasional mengalokasikan anggaran khusus untuk mempercantik lokasi pameran termasuk bagaimana mengarahkan pengunjung selama 30 menit di dalam ruang pameran, yang dapat diakses dengan menggunakan aplikasi melalui Android Q&R, yang merupakan kerjasama dengan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).


Press Release : 17|71: Goresan Juang Kemerdekaan

Pameran Koleksi Seni Rupa Istana Kepresidenan Republik Indonesia Menyambut perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-71, Istana Kepresidenan Republik Indonesia menggelar pameran sejumlah koleksi lukisan dan foto-foto kepresidenan. Pameran yang bertajuk "17|71: Goresan Juang Kemerdekaan" tersebut diagendakan untuk diresmikan pada 1 Agustus 2016, dan dibuka untuk publik mulai tanggal 2 hingga 30 Agustus 2016 di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Pameran koleksi lukisan Istana Kepresidenan yang terselenggara atas kerja sama Kementerian Sekretariat Negara, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan­ melalui Galeri Nasional Indonesia, Badan Ekonomi Kreatif, dan Mandiri Art tersebut merupakan pameran yang pertama kalinya diselenggarakan sejak Indonesia merdeka. Gelaran tersebut dimaksudkan sebagai bentuk penghargaan terhadap karya-karya besar yang dimiliki Indonesia. "Kami ingin memamerkan koleksi Istana kita untuk dinikmati oleh masyarakat. Pameran ini adalah pameran yang pertama kali, lukisan-lukisan di Istana dibawa keluar dan kemudian dipamerkan. Jadi, ini merupakan bentuk penghargaan kepada karya-karya besar kita untuk diketahui, ditelaah, dianalisis, dipelajari, dan menginspirasi bangsa kita secara keseluruhan," ujar Menteri Sekretaris Negara Pratikno dalam jumpa pers pada 25 Juli 2016 di Gedung Utama Kementerian Sekretariat Negara, Jakarta.