Istana Merdeka


Konstruksi awal

Gaya arsitektur

Istana Merdeka adalah tempat kediaman resmi Presiden, khususnya Presiden pertama, dan tempat berlangsungnya upacara-upacara kenegaraan. Ia mendapat tempat khusus di hati rakyat karena bernama Merdeka—perlambang kemenangan perjuangan bangsa. Nama itu menandai berakhirnya penjajahan di Indonesia dan mulainya pemerintahan oleh bangsa sendiri.
Bangunan yang kemudian menjadi Istana Merdeka ini didirikan sepanjang 1873–1879. Bangunan bergaya Palladio ini digagas oleh Gubernur Jenderal Pieter Mijer pada tahun 1869.
Bangunan Istana Negara didirikan pada 1796. Semula ia adalah rumah Jacob Andries van Braam, mantan Residen Belanda pertama untuk Surakarta yang menjadi kaya- raya karena jabatan-jabatannya di bawah Gubernur Jenderal Daendels. Sedangkan bangunan Istana Merdeka, yang memang dimaksudkan sebagai Istana, dibangun pada 1873 dan selesai enam tahun berikutnya.
Kedua bangunan itu berada di kawasan yang di masa lalu bernama Weltevreden (dalam bahasa Belanda berarti “sangat memuaskan”) merupakan kantung pemukiman orang-orang Belanda dan terhitung paling elit. Weltevreden kala itu dikenal sebagai kota yang tertata cantik dengan pohon-pohon yang dipangkas rapi seperti di taman-taman Eropa . Pejabat-pejabat dan saudagar-saudagar kaya Belanda segera membangun rumah-rumah besar di Weltevreden.
Terdapat dua taman di Weltevreden: Koningsplein (sekarang Taman Monas) dan Waterlooplein (sekarang lapangan Banteng). Di sisi Koningsplein yang lain, membelakangi taman pada kedua sisi anak sungai Ciliwung, terbentang dua jalan yang pada saat itu disebut Noordwijk (sekarang Jalan Juanda) dan Rijswijk (sekarang Jalan Veteran). Di Rijkswijk itulah pada 1796 Van Braam membangun sebuah rumah besar yang berhalaman sangat luas dan menghadap ke anak sungai Ciliwung. Pada 1869, Gubernur Jenderal Pieter Mijer mengajukan permohonan untuk membangun sebuah “hotel” baru di belakang “Hotel Gubernur Jenderal” di Rijswijk. Seorang arsitek bernama Drossares dipercayakan untuk merancang gedung baru yang menghadap ke Koningsplein yang kelak bernama Istana Merdeka. Istana Negara dan Istana Merdeka dibangun mengikuti konsep rumah panggung untuk memperhitungkan kemungkinan banjir atau pasang-surut air. Konsep rumah panggung itu juga berfungsi sebagai sarana aliran udara (ventilasi) untuk menyejukkan isi bangunan. Dengan hadirnya teknologi penyejuk udara di masa modern, bagian bawah ini kemudian ditembok dan diubah menjadi berbagai ruang layanan, seperti dapur, gudang, dan sebagainya. Gaya arsitektur Palladio tampak jelas dari eksterior kedua gedung ini yang menampilkan saka-saka bercorak Yunani. Ada enam saka bundar laras Doria di bagian depan Istana Merdeka.
Halaman luas yang menjadi pelataran bagi Istana Merdeka, Istana Negara, dan Wisma Negara juga menjadi surga bagi berbagai macam burung. Sesuai dengan musimnya, ratusan burung betet, perkutut, jalak, menyinggahi halaman Istana Jakarta. Bung Karno dulu selalu meminta para staf untuk menyediakan makanan bagi peliharaan burung-burung. Sebagai pecinta kemerdekaan, ia juga dikenal pembenci sangkar burung. Pada masa pemerintahan Presiden Megawati, Taufiq Kiemas, suami Presiden, menanam pohon salam di halaman ini untuk mengundang burung- burung bebas.
Beberapa arca kuno juga menghiasi berbagai sudut pekarangan Istana Jakarta. Salah satu di antaranya, arca Dhyani Boddhisattva, yang berasal dari Jawa Tengah pada abad ke-9 merupakan arca langka yang sudah ada di sana sejak masa Hindia-Belanda. Istana Negara dilihat dari arah anak Sungai Ciliwung, sekitar 1920. Perhatikan lambang Kerajaan Belanda pada muka gedung bagian atas.Gedung ini pernah disebut sebagai hotel bagi Gubernur Jenderal jika berada di Batavia. Pada masa itu, Gubernur Jenderal tinggal di puri Buitenzorg, yang sekarang menjadi Istana Bogor. Setelah proklamasi kemerdekaan, Istana Negara menjadi saksi sejarah atas penandatanganan naskah Persetujuan Linggajati pada Selasa, 25 Maret 1947.
Pada masa pemerintahan Presiden Sukarno, beberapa puncak peristiwa sejarah yang terjadi di Istana Merdeka dan Istana Negara antara lain adalah: pembubaran Republik Indonesia Serikat dan kembali ke bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 15 Agustus 1950, pengambilan sumpah anggota Dewan Perwakilan Rakyat hasil Pemilihan Umum 1955, Dekrit Presiden Kembali ke Undang-Undang Dasar 1945 di depan Istana Merdeka pada 5 Juli 1959, pidato Dekrit Ekonomi di Istana Negara pada 28 Maret 1963 sebagai akibat ditolaknya permintaan utang.
Istana Merdeka adalah tempat kediaman resmi Presiden, khususnya Presiden pertama, dan tempat berlangsungnya upacara-upacara kenegaraan. Ia mendapat tempat khusus di hati rakyat karena bernama Merdeka—perlambang kemenangan perjuangan bangsa. Nama itu menandai berakhirnya penjajahan di Indonesia dan mulainya pemerintahan oleh bangsa sendiri. Sedangkan Istana Negara semula adalah rumah Jacob Andries van Braam, mantan Residen Belanda pertama untuk Surakarta yang menjadi kaya- raya karena jabatan-jabatannya di bawah Gubernur Jenderal Daendels.
Istana Negara dan Istana Merdeka dibangun mengikuti konsep rumah panggung untuk memperhitungkan kemungkinan banjir atau pasang-surut air. Konsep rumah panggung itu juga berfungsi sebagai sarana aliran udara (ventilasi) untuk menyejukkan isi bangunan. Dengan hadirnya teknologi penyejuk udara di masa modern, bagian bawah ini kemudian ditembok dan diubah menjadi berbagai ruang layanan, seperti dapur, gudang, dan sebagainya. Gaya arsitektur Palladio tampak jelas dari eksterior kedua gedung ini yang menampilkan saka-saka bercorak Yunani.
Pada masa pemerintahan Presiden Sukarno, beberapa puncak peristiwa sejarah yang terjadi di Istana Merdeka dan Istana Negara antara lain adalah: pembubaran Republik Indonesia Serikat dan kembali ke bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 15 Agustus 1950, pengambilan sumpah anggota Dewan Perwakilan Rakyat hasil Pemilihan Umum 1955, Dekrit Presiden Kembali ke Undang-Undang Dasar 1945 di depan Istana Merdeka pada 5 Juli 1959, pidato Dekrit Ekonomi di Istana Negara pada 28 Maret 1963 sebagai akibat ditolaknya permintaan utang.